Foto: Sister Hong Lombok viral bernama Deni berasal dari Praya Timur, Lombok Tengah, dan akrab disapa Dea Lipa. Foto: (Facebook @Diana_Arkayanti)
INFOOKU.COM — Jagat media sosial Indonesia kembali diramaikan dengan kemunculan sosok yang dijuluki warganet sebagai “Sister Hong versi Lombok”. Seorang makeup artist (MUA) berhijab asal Lombok mendadak viral setelah terungkap bahwa ia sebenarnya adalah seorang laki-laki yang selama ini tampil dengan identitas perempuan saat bekerja sebagai perias.
Video dan foto MUA tersebut mulai beredar luas sejak akhir pekan lalu, memicu diskusi hangat di berbagai platform seperti TikTok, Instagram, hingga X (Twitter). Banyak warganet mengaku terkejut sekaligus tak menyangka karena penampilan sang MUA yang dinilai sangat feminine dan rapi saat mengenakan hijab.
Awal Viral di Media Sosial
Fenomena ini bermula dari unggahan seorang klien yang memperlihatkan proses makeup sebelum dan sesudah dirias oleh sang MUA. Dalam video tersebut, MUA tampil dengan balutan hijab dan gaya lembut. Namun, pada akhir video, ia memperlihatkan wajah asli tanpa hijab, yang menunjukkan bahwa dirinya seorang pria.
Unggahan itu kemudian menyebar dengan cepat dan memicu ribuan komentar.
“Awalnya saya kira perempuan beneran, ternyata cowok. Keren banget makeup-nya sampai nggak bisa bedain,” tulis salah satu pengguna TikTok.
Sebagian warganet menyamakan sosok tersebut dengan Sister Hong, figur viral Tiongkok yang dikenal ahli merias sambil menyembunyikan identitas gender aslinya.
Daftar di Situs Resmi SINSLOT server Nexus Engine Rasakan Keuntungan besar Bermain di situs SINSLOT Sekarang !!
MUA Mengaku Alasan Pakai Hijab untuk Profesionalitas

Dalam video klarifikasinya, sang MUA menjelaskan bahwa penggunaan hijab bukan untuk menipu, tetapi karena merasa lebih nyaman dan aman ketika bekerja, terutama saat melayani klien perempuan.
“Saya pakai hijab saat kerja supaya klien nyaman. Banyak yang lebih prefer dirias sama yang terlihat perempuan. Tapi kalau di luar job, saya tampil seperti biasa,” ujarnya dalam video tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa klien yang datang kepadanya selalu mendapatkan hasil makeup yang maksimal tanpa ada niat merugikan siapa pun.
Perdebatan Publik: Antara Identitas, Etika, dan Profesionalitas
Kasus ini memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Sebagian warganet mendukung sang MUA karena dinilai profesional dan memiliki kemampuan merias yang tinggi.
Namun, ada juga yang menilai penggunaan hijab oleh pria dapat menimbulkan kebingungan dan perlu adanya transparansi kepada klien.
Pengamat budaya digital, Damar Yudha, mengatakan fenomena ini menunjukkan bagaimana identitas di ruang digital sering kali menjadi lebih fleksibel.
“Di era media sosial, identitas bisa dikonstruksi sesuai kebutuhan. Namun, batas etika tetap harus dijaga, terutama terkait kepercayaan klien,” ujarnya.
Klien Justru Banyak yang Tetap Mendukung
Menariknya, sejumlah klien yang pernah menggunakan jasa sang MUA justru memberikan dukungan penuh. Mereka menilai kemampuan merias jauh lebih penting ketimbang identitas gender sang perias.
“Yang penting hasilnya memuaskan. Saya pribadi nggak masalah,” kata salah satu klien.
Beberapa bahkan memuji keterampilan transformasi makeup sang MUA yang dinilai sangat tinggi.
Pihak Keluarga Ikut Menanggapi
Dalam pernyataan singkat di media sosial, pihak keluarga mengatakan bahwa mereka mengetahui aktivitas sang MUA dan tidak mempermasalahkannya selama dilakukan dengan cara yang sopan dan tidak merugikan orang lain.
Keluarga juga meminta publik untuk tidak menyebarkan komentar yang bersifat menghina atau menyerang secara pribadi.
Baca Juga Seputar : sinslot
Viralnya Fenomena “Cross-MUA”
Fenomena MUA laki-laki yang tampil seperti perempuan bukan hal baru di dunia kecantikan. Banyak perias profesional di Indonesia maupun luar negeri menggunakan persona tertentu untuk mempermudah interaksi dengan klien atau mencocokkan gaya brand mereka.
Kasus “Sister Hong versi Lombok” hanya menjadi salah satu contoh yang mendapat sorotan karena perbedaan drastis antara persona saat bekerja dan penampilan asli.
Kesimpulan
Hingga kini, video dan foto sang MUA masih terus dibagikan oleh pengguna media sosial, dan pembahasannya semakin luas mulai dari isu identitas gender, profesionalitas MUA, hingga etika penggunaan hijab dalam konteks pekerjaan.
Meski memicu kontroversi, banyak pihak menilai bahwa fenomena ini menunjukkan dinamika industri kecantikan modern yang semakin kreatif dan kompetitif, sekaligus memberikan ruang diskusi mengenai identitas dan ekspresi diri di era digital.
Sumber : infooku.com – Berita Terkini – Informasi Cepat, Akurat, dan Terpercaya.
