Jakarta, November 2025 – Aparat kepolisian mengungkap adanya modus baru dalam kasus penculikan anak, yaitu pelaku menggunakan anaknya sendiri untuk mendekati korban secara kepercayaan. Taktik ini dinilai sangat berbahaya karena memanfaatkan unsur emosional dan keakraban anak-anak sehingga orang tua harus meningkatkan kewaspadaan.
Fakta Kasus yang Diungkap
- Dalam salah satu kasus di Kota Makassar, pelaku penculikan anak berinisial SY diketahui menggunakan dua anaknya dalam upaya mendekati korban anak di taman bermain. Setelah kedekatan terbangun, korban dibawa pergi oleh pelaku dan akhirnya ditemukan dalam kondisi yang jauh dari lingkungan aman keluarga.
- Berdasarkan keterangan resmi dari Polrestabes Makassar bersama Polda Sulawesi Selatan, pelaku pertama membawa korban ke sebuah kos di Makassar, lalu kemudian korban dijual ke daerah Jambi melalui jalur jaringan yang lebih besar. Dalam proses itu, anak-anak pelaku digunakan sebagai “pembuka jalan” agar korban merasa aman dan tidak curiga.
- Dalam konferensi pers, Kapolda Sulawesi Selatan mengatakan bahwa korban penjualan anak ini melalui beberapa tahap dan melibatkan transaksi uang yang besar.
Daftar di Situs Resmi SINSLOT server Nexus Engine Rasakan Keuntungan besar Bermain di situs SINSLOT Sekarang !!
Modus Operandi yang Digunakan Pelak

Pelaku membawa anaknya ke tempat umum seperti taman bermain atau playground untuk mendekati korban anak lain. Dengan terlihat sebagai “teman sebaya” korban, pelaku dan anaknya menciptakan kedekatan dan kemudian mengajak korban dengan alasan yang nampak tak mencurigakan (misalnya bermain, diantar ke rumah teman, atau aktivitas ringan lainnya).
Setelah korban percaya, pelaku mengambil alih situasi dan membawa korban ke lokasi tersembunyi atau ke luar wilayah. Karena ada anak pelaku yang “teman” korban, perhatian orang tua & pengasuh bisa menurun.
Setelah korban percaya, pelaku mengambil alih situasi dan membawa korban ke lokasi tersembunyi atau ke luar wilayah. Karena ada anak pelaku yang “teman” korban, perhatian orang tua & pengasuh bisa menurun.
Baca Juga Seputar : Slot Online
Kemudian korban digerakkan melalui jaringan penjualan anak lintas provinsi, dengan transaksi sejumlah juta rupiah, menjadikan kasus ini masuk kategori perdagangan anak.
Imbauan Kepada Orang Tua dan Masyarakat
- Orang tua harus selalu mengawasi anak-anak saat berada di tempat umum, terutama di taman bermain, ruang terbuka, dan saat menggunakan gadget atau bermain dengan anak lain yang baru dikenal.
- Waspadai anak atau orang dewasa yang tampak “ramah” dan terlalu cepat membangun kedekatan dengan anak tanpa pengawasan orang tua
- Ajarkan anak untuk tidak pernah pergi dengan orang yang dikenalkan oleh anak lain, ataupun yang mengajak dengan janji bermain atau hadiah tanpa izin orang tua.
- Bila melihat situasi mencurigakan (anak asing bermain dekat anak sendiri, ajakan pergi, atau keinginan anak untuk ikut seseorang yang bukan keluarga/pengasuh), segera intervensi dan laporkan ke pihak keamanan sekitar atau nomor darurat kepolisian
- Sekolah, pengasuh, dan pengelola fasilitas umum anak harus meningkatkan pengawasan, serta mengedukasi anak-anak tentang konsep “tidak aman pergi dengan orang tak dikenal” dan “meminta izin orang tua terlebih dahulu”.
Dampak dan Langkah Penegakan
- Kasus penculikan anak yang melibatkan jaringan lintas provinsi ini menegaskan bahwa bukan hanya “pengambilan” saja, tetapi juga unsur perdagangan anak. Dalam kasus Makassar, korban dijual beberapa kali ke wilayah Jambi hingga harga transaksi mencapai puluhan juta rupiah.
- Kepolisian menindak lanjuti dengan penggerebekan, penangkapan pelaku, serta unsur jaringan yang melakukan transaksi anak dan penyelundupan antarwilayah. Ini turut melibatkan unit kejahatan anak dan perlindungan anak pada kepolisian daerah
- Penegakan hukum bukan hanya terhadap pelaku utama, tetapi juga pihak lain yang turut memfasilitasi, seperti orang yang membeli, mengangkut, atau menyembunyikan korban. Publik diimbau agar memberikan informasi bila mengetahui aktivitas mencurigakan.
Kesimpulan
Modus penculikan yang menggunakan anak pelaku sebagai “umpan” atau “teman sebaya” menunjukkan bahwa orang tua dan masyarakat harus lebih waspada—termasuk terhadap interaksi yang tampak biasa di lingkungan sekitar anak. Meski keakraban anak-anak sering dianggap hal normal, bukan berarti aman secara otomatis.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pengawasan, komunikasi terbuka dengan anak, serta edukasi keseharian tentang bahaya orang tak dikenal sangat penting. Bila tetap waspada dan peduli, maka kemampuan deteksi dini terhadap perilaku mencurigakan akan meningkat, sehingga potensi penculikan atau perdagangan anak bisa dicegah atau segera direspons.
