Posted in

Kawasan Jakarta Terendam Banjir, BPBD DKI Jakarta Ungkap Penyebabnya

Jakarta, 31 Oktober 2025 — Hujan lebat yang mengguyur wilayah ibu kota dan sekitarnya pada Kamis malam hingga Jumat dini hari memicu banjir yang meluas di sejumlah titik di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Data dari BPBD DKI menunjukkan puluhan Rukun Tetangga (RT) sudah terendam serta ketinggian air mencapai lebih dari 1 meter di beberapa lokasi.

Kronologi Terjadinya Genangan

Mulai sekitar sore hingga malam hari pada Kamis (30/10), curah hujan meningkat signifikan di wilayah DKI Jakarta dan hulu sungai yang mengalir ke kota. Menurut Kapusdatin BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, kenaikan curah hujan menyebabkan beberapa pos pemantau air seperti Pos Sunter Hulu, Pos Pesanggrahan, dan Pintu Air Karet memasuki status Waspada/Siaga 3.

Pada pukul 21.00 WIB, BPBD mencatat sedikitnya 54 RT sudah tergenang air akibat hujan dan luapan sungai/kanal.

Baca Juga Seputar : Slot Online

Beberapa wilayah yang terdampak antara lain:

  • Kelurahan Cipete Utara – tergenang hingga 160 cm akibat luapan Kali Krukut.
  • Kelurahan Bangka dan Kuningan Barat – tergenang hingga sekitar 110 cm, karena curah hujan tinggi dan luapan Kali Mampang.
  • Kelurahan Sukabumi Selatan, Jakarta Barat – tergenang hingga 70 cm malam hari.

BPBD pun mengerahkan personel, pompa penyedot, serta koordinasi dengan Dinas SDA, Bina Marga dan Gulkarmat untuk mempercepat penanganan genangan.

Penyebab Utama Menurut BPBD

Dalam keterangan resmi, BPBD DKI Jakarta menyebut beberapa faktor utama yang menyebabkan banjir kali ini:

  • Curah hujan tinggi secara tiba-tiba yang mengguyur wilayah hulu dan DKI Jakarta sehingga debit air sungai serta kanal meningkat tajam.
  • Luapan sungai dan kanal di beberapa titik akibat peningkatan air di hulu yang mengalir ke Jakarta, khususnya Kali Krukut dan Kali Mampang.
  • Kondisi geografis dan tipografi ibu kota yang sebagian besar berada di dataran rendah, beberapa wilayah bahkan berada di bawah permukaan laut, sehingga rentan terhadap genangan ketika curah hujan ekstrem terjadi.

Dampak Terhadap Masyarakat & Mobilitas

Aktivitas sehari-hari masyarakat terganggu: sekolah, perkantoran, dan lalu lintas mengalami hambatan akibat genangan yang cukup tinggi di beberapa titik.

Beberapa ruas jalan utama di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan tergenang hingga 40-70 cm, menghambat transportasi dan memperparah kemacetan.

Kepercayaan publik terhadap penanganan banjir dan infrastruktur kota kembali mendapat sorotan. Organisasi seperti LBH Jakarta menilai banjir dan macet yang berulang sebagai bukti kelemahan tata kelola kota.

Analisis — Tantangan Struktural Kota Jakarta

Kejadian ini kembali menegaskan bahwa banjir di Jakarta bukan hanya soal hujan, tetapi juga berakar pada masalah penataan kota dan perubahan penggunaan lahan:

  • Urbanisasi cepat, betonisasi lahan, dan menyempitnya ruang terbuka hijau membuat air hujan sulit terserap.
  • Penurunan muka tanah (subsidence) dan kondisi sebagian wilayah berada di bawah permukaan laut memperparah kerentanan terhadap genangan.
  • Sistem drainase, sungai dan kanal yang belum sepenuhnya mampu memfasilitasi aliran air ketika curah hujan ekstrem dan luapan terjadi di hulu/hulu-hilir.

Tanggapan Pemerintah & Langkah Selanjutnya

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui BPBD telah mengimbau warga khususnya di bantaran sungai dan daerah rendah untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.
Selain itu, organisasi kota dituntut untuk memperkuat:

  • Normalisasi dan pemeliharaan sungai/kanal secara rutin
  • Sistem peringatan dini dan pengendalian sistem drainase
  • Penataan ruang dan pembangunan yang memperhatikan daya serap air dan mitigasi banjir

Kesimpulan

Banjir yang melanda kawasan Jakarta, khususnya Jakarta Selatan dan Timur, pada akhir Oktober 2025 menunjukkan betapa rentan ibu kota terhadap cuaca ekstrem dan tantangan tata kota. Walaupun hujan tinggi menjadi pemicu utama, akar permasalahan meliputi sistem kota yang belum sepenuhnya siap menghadapi perubahan iklim dan curah hujan yang semakin intens.
Penanganan cepat oleh BPBD patut diapresiasi, namun agar kejadian serupa tidak terus berulang, perlu upaya integrasi antara perencanaan kota, lingkungan, dan mitigasi bencana yang berkelanjutan.


Sumber : infooku.com – Berita Terkini – Informasi Cepat, Akurat, dan Terpercaya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *