Belgia salah satu negara NATO, memberikan klarifikasi setelah mengancam akan menghapus Moskow dari peta jika rudal Rusia menyerang Brussels. Foto/Atlantic Council
infooku.com
Pernyataan kontroversial muncul ketika Theo Francken, Menteri Pertahanan Belgia, dalam sebuah wawancara dengan harian Belgia De Morgen menyebut bahwa jika Presiden Rusia Vladimir Putin meluncurkan rudal menuju ibu kota Belgia (Brussels), maka NATO akan “menghapus Moskow dari peta”. Pernyataan itu dilaporkan oleh berbagai media internasional.
Menurut Francken, satu serangan rudal konvensional terhadap Brussels (sebagai ibukota negara anggota NATO) akan memicu respons kolektif dari aliansi, dengan implikasi yang sangat serius terhadap Rusia.
Dalam wawancara tersebut, Francken juga menggarisbawahi bahwa ia menilai serangan langsung semacam itu tidak terlalu mungkin — namun ia lebih khawatir terhadap skenario “zona abu-abu” (grey-zone) seperti tentara bayangan atau agitasi kaum minoritas yang dilakukan oleh Rusia di negara-negara Baltik.
Reaksi Rusia atas pernyataan ini cukup keras: Embassy of Russia in Belgium mengutuk pernyataan Francken sebagai “provokatif dan tidak bertanggung-jawab”, serta menggambarkan hal itu sebagai manifestasi “psikosis militer” yang berkembang di Eropa Barat.
Klarifikasi dari NATO & penyesuaian sikap
Menanggapi eskalasi pernyataan itu, NATO sendiri melalui laman resminya menyatakan bahwa aliansi tidak mengejar konfrontasi dengan Rusia maupun tujuan untuk menghapus negara manapun dari peta. Dalam penjelasan tertulis, NATO menegaskan posisinya sebagai aliansi defensif, bukan ofensif.
NATO
Baca Juga Seputar Category :Slot Online
Walaupun pernyataan Francken bersifat pribadi sebagai pejabat nasional Belgia, secara politis hal itu memicu kebutuhan bagi aliansi untuk melakukan penegasan ulang bahwa setiap respons terhadap serangan terhadap anggota akan dilakukan sesuai mekanisme kolektif dan dalam kerangka hukum internasional, bukan melalui deklarasi unilateral “menghapus” ibu kota lawan.
Sikap tersebut juga mencerminkan kepekaan NATO terhadap narasi yang bisa memicu eskalasi tak terkendali—termasuk ancaman nuklir, misalnya—dan untuk menghindari kesalahpahaman yang bisa memperburuk ketegangan.
Analisis latar belakang & implikasi geopolitik
Pernyataan tersebut terjadi dalam konteks meningkatnya ketegangan antara Rusia dan NATO terkait perang di Ukraina, serangan drone, pelanggaran udara di perbatasan Eropa Timur, serta kekhawatiran akan konflik hybrid (gabungan antara militer konvensional dan taktik tidak langsung).Beberapa poin penting yang dapat dicermati:
- Berada di garis depan: negara-negara Eropa Timur yang merupakan anggota NATO telah mengalami sejumlah provokasi udara dan drone yang diduga dari Rusia, sehingga rasa kerentanan meningkat.
The Parliament Magazine
- Pertahanan kolektif: Prinsip utama NATO ialah pasal 5—serangan terhadap satu anggota dianggap serangan terhadap semua—yang menjadi landasan dalam pernyataan Francken terhadap kemungkinan respons aliansi.
The Brussels Times
- Risiko eskalasi: Meski pernyataan seperti “menghapus Moskow dari peta” bisa saja bersifat retorika sebagai bentuk penyampaian pesan deterrensi (pencegahan), tetap ada risiko misinterpretasi, yang bisa memperburuk siklus ancaman dan menimbulkan ketegangan yang sulit dikendalikan.
- Klarifikasi penting: Dengan pengulangan bahwa NATO bukan aliansi ofensif yang mengejar penghapusan negara lain, hal tersebut menunjukkan bahwa aliansi menyadari pentingnya menjaga stabilitas strategis dan menghindari perang terbuka antara blok besar.
Dampak dan pandangan internasional
Reaksi publik dan diplomatik cukup variatif:
- Rusia menolak keras pernyataan Belgia dan menuding Eropa Barat telah terperangkap dalam “frenesi militer” yang bisa menimbulkan konflik besar.
- Media dan pengamat luar negeri menyoroti bahwa meskipun pernyataan keras seperti itu menarik perhatian, skenario serangan langsung kepada ibu kota NATO oleh Rusia tetap dianggap sangat tidak mungkin. Namun, skenario hybrid—serangan drone, sabotase, agitasi politik—dipandang sebagai risiko nyata.
- Di dalam negara anggota NATO sendiri, pernyataan seperti ini memunculkan diskusi tentang keseimbangan antara menunjukkan ketegasan dan menjaga agar tidak mendorong konflik yang tidak diinginkan.
Pernyataan Menteri Pertahanan Belgia yang menyebut bahwa NATO akan “menghapus Moskow dari peta” apabila ibu kota Belgia diserang adalah sebuah pesan yang kuat dan menegaskan komitmen aliansi terhadap perlindungan anggotanya. Namun, eskalasi retorika tersebut memunculkan kebutuhan bagi NATO untuk mengklarifikasi bahwa aliansi tidak memiliki agenda ofensif terhadap Rusia dan tetap memposisikan diri sebagai pertahanan kolektif.
Dalam kerangka strategis, insiden ini menyoroti dua hal: pentingnya kredibilitas deterrensi (agar musuh potensial tidak melakukan serangan) dan pada saat yang sama urgensi menjaga agar retorika tidak menimbulkan reaksi balik yang memperburuk keamanan regional.
Sumber : infooku.com – Berita Terkini – Informasi Cepat, Akurat, dan Terpercaya.
